• Beranda
  • Buku Tamu
  • Perihal

Tokoh Wayang

Mengenal jati diri melalui karakter tokoh wayang.

Pengumpan:
Tulisan
Komentar
« Batara Indra
Hanoman »

Batara Kala

20 November 2009 oleh Putra Lokajaya

Tokoh Wayang Dalam ajaran agama Hindu, Kala adalah putera Dewa Siwa yang bergelar sebagai dewa penguasa waktu (kata kala berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya waktu). Dewa Kala sering disimbolkan sebagai rakshasa yang berwajah menyeramkan, hampir tidak menyerupai seorang Dewa. Dalam filsafat Hindu, Kala merupakan simbol bahwa siapa pun tidak dapat melawan hukum karma. Apabila sudah waktunya seseorang meninggalkan dunia fana, maka pada saat itu pula Kala akan datang menjemputnya. Jika ada yang bersikeras ingin hidup lama dengan kemauan sendiri, maka ia akan dibinasakan oleh Kala. Maka dari itu, wajah Kala sangat menakutkan, bersifat memaksa semua orang agar tunduk pada batas usianya.

Kelahiran Batara Kala

Menurut lontar Kala Tattwa

Dalam kitab Kala Tattwa diceritakan, pada waktu Dewa Siwa sedang jalan-jalan dengan Dewi Uma di tepi laut, “air mani” Dewa Siwa menetes ke laut ketika melihat betis Dewi Uma karena angin berhembus menyingkap kain Sang Dewi. Dewa Siwa ingin mengajak Dewi Uma untuk berhubungan badan, namun Sang Dewi menolaknya karena prilaku Dewa Siwa yang tidak pantas dengan prilaku Dewa-Dewi di kahyangan. Akhirnya mereka berdua kembali ke kahyangan. Air mani Dewa Siwa menetes ke laut kemudian ditemukan oleh Dewa Brahma dan Wisnu. Benih tersebut kemudian diberi japa mantra. Dari benih seorang Dewa tersebut, lahirlah seorang rakshasa yang menggeram-geram menanyakan siapa orangtuanya. Atas petunjuk dari Dewa Brahma dan Dewa Wisnu, raksasa itu mengetahui bahwa Dewa Siwa dan Dewi Uma adalah orangtuanya.

Sebelum Dewa Siwa mengakui raksasa tersebut sebagai putranya, terlebih dahulu ia harus memotong taringnya yang panjang agar dapat melihat wujud orangtuanya seutuhnya. Akhirnya syarat tersebut dipenuhi. Sang raksasa dapat melihat wujud orangtuanya seutuhnya. Sang raksasa diberkati oleh Dewa Siwa dan diberi gelar Bhatara Kala. untuk menghormati hari kelahirannya, Dewa Siwa memberi anugerah bahwa Bhatara Kala boleh memakan orang yang lahir pada hari “tumpek wayang” dan memakan orang yang jalan-jalan di tengah hari pada hari “tumpek wayang”. Kebetulan adiknya, Dewa Kumara, juga lahir pada hari “tumpek wayang”. Sesuai anugerah Dewa Siwa, Bhatara Kala boleh memakannya. Namun atas permohonan Dewa Siwa, Bhatara Kala boleh memakan adiknya kalau adiknya sudah besar.

Kesempatan itu digunakan oleh Dewa Siwa. Ia menganugerahi Dewa Kumara agar selamanya menjadi anak-anak. Akal-akalan itu diketahui Bhatara Kala. Akhirnya ia tidak sabar lagi. Dewa Kumara dikejarnya. Dalam pengejarannya, ia bertemu Dewa Siwa dan Dewi Uma. Mereka pun ingin dimakan oleh Bhatara kala sesuai janjinya Dewa Siwa. Namun, mereka memberinya teka-teki terlebih dahulu yang harus dipecahkan Bhatara Kala jika ingin memakan mereka. Batas waktu menjawabnya hanya sampai matahari condong ke barat. Akhirnya Bhatara Kala tidak bisa menjawab teka-teki dan matahari sudah condong ke barat, maka habislah kesempatannya untuk memakan Dewa Siwa dan Dewi Uma. Karena tidak bisa memakan mereka, Bhatara Kala melanjutkan pengejarannya mencari Dewa Kumara.

Setelah lama mengejar, akhirnya ia kelelahan dan menemukan sesajen yang dihaturkan Sang Amangku dalang yang sedang main wayang. Karena haus dan lapar, sesajen itu dilahapnya habis. Akhirnya terjadilah dialog antara Sang Amangku Dalang dengan Bhatara Kala, yang meminta agar segala sesajen yang dimakan dimuntahkan kembali. Bhatara Kala tidak bisa memenuhi permohonan tersebut. Sebagai gantinya, ia berjanji tidak akan memakan orang yang lahir pada hari tumpek wayang, jika sudah menghaturkan sesajen menggelar wayang “sapu leger”.

Menurut pewayangan Jawa

Ketika Batara Guru dan istrinya, Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, dalam perjalanannya karena terlena maka Batara Guru bersenggama dengan istrinya di atas kendaraan suci Lembu Andini, sehingga Dewi Uma hamil. Ketika pulang dan sampai di kahyangan Batara Guru kaget dan tersadar atas tindakannya melanggar larangan itu. Seketika itu Batara Guru marah pada dirinya dan Dewi Uma, dia menyumpah-nyumpah bahwa tindakan yang dilakukannya seperti perbuatan “Buto” (bangsa rakshasa). Karena semua perkataannya mandi (bahasa indonesia: cepat menjadi kenyataan) maka seketika itu juga Dewi Uma yang sedang mengandung menjadi raksasa. Batara Guru kemudian mengusirnya dari kahyangan Jonggringsalaka dan menempati kawasan kahyangan baru yang disebut Gondomayit. Hingga pada akhirnya Dewi Uma yang berubah raksasa itu terkenal dengan sebutan Batari Durga. Setelah itu ia melahirkan anaknya, yang ternyata juga berwujud raksasa dan diberi nama Kala. Namun pada perkembangan selanjutnya Batara Kala justru menjadi suami Batari Durga, karena memang di dunia raksasa tidak mengenal norma-norma perkawinan. Batara Kala dan Batari Durga selalu membuat onar marcapada (bumi) karena ingin membalas dendam pada para dewa pimpinan Batara Guru.

Karena Hyang Guru kwatir kalau kayangan rusak maka Batara Guru mengakui kalau Kala adalah anaknya. Maka diberi nama Batara Kala dan Batara Kala minta makanan, maka Batara Guru memberi makanan tetapi ditentukan yaitu :

  1. Orang yang mempunyai anak satu yang disebut ontang-anting
  2. Pandawa lima anak lima laki-laki semua atau anak lima putri semua.
  3. Kedono kedini, anak dua laki-laki perempuan jadi makanan Betara Kala.

Untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala harus diadakan upacara ruwatan. Maka untuk lakon-lakon seperti itu di dalam pedalangan disebut lakon Murwakala atau lakon ruwatan. Di dalam lakon pedalangan Batara Kala selalu memakan para pandawa karena dianggapnya Pandawa adalah orang ontang anting. Tetapi karena Pandawa selalu didekati titisan Wisnu yaitu Batara Kresna. Maka Batara Kala selalu tidak berhasil memakan Pandawa.

Referensi

  • Sukartha, I Ketut. 2003. Agama Hindu. Penerbit: Ganeca Exact
  • Gambar, I Made. Darmopadesa (pokok-pokok ajaran Hindu).

Pranala:

  • Wikipedia: Batara Kala. (Sumber artikel ini).

Like this:

Suka
Be the first to like this post.

Ditulis dalam Dewa-Dewi Wayang | Tinggalkan sebuah Komentar

  • Kategori Tokoh Wayang

    • Artikel
    • Dewa-Dewi Wayang
    • Dinasti Kuru
    • Goenawan Muhammad
    • Korawa
    • Pandawa
    • Pembacaan Modern
    • Punakawan
    • Tokoh Mahabharata
    • Tokoh Ramayana
    • Versi Jawa
  • Tokoh Wayang Favorit

    • Silsilah Mahabarata
    • Semar
    • Drupadi dan Srikandi
    • Hanoman
    • Batara Ganesha
    • Gatotkaca 2
    • Batara Bayu
    • Batara Guru
    • Batara Wisnu
    • Yudistira
  • Blogroll

    • 100 Tokoh Sejarah
    • Al-Hadist Online
    • Al-Hikmah Online
    • Beranda Suluk
    • Biografi Para Sufi
    • Biografi Tokoh Dunia
    • Buku Tasawuf
    • Dharma Mittra
    • Dunia Keluarga
    • Jagad Wayang
    • Jalan Mendaki
    • Kali Sengara
    • Kang Sejo
    • Kimia Kebahagiaan
    • Kisah Sufi
    • Mahkota Sufi
    • Mantiqu't-Thair
    • Nahj al-Balaghah
    • Ngrumi
    • Phoenix Diary
    • Pustaka Loka
    • Sejarah Muhammad
    • Serambi Tashawwuf
    • Serambi Tashawwuf 2
    • Serat Centhini
    • Serat Suluk
    • Suluk
    • Tokoh Sufi
    • Tokoh Wayang
    • Wawan TBH
    • Wayang Pop
    • Paramartha
    • Sancang
  • Mitrasites English

    • Mitra Sites
    • Mitra Agriculture
    • Mitra AltHealth
    • Mitra Archaeology
    • Mitra Arts
    • Mitra Astronomy
    • Mitra Autos
    • Mitra Basketball
    • Mitra Beauty
    • Mitra Biology
    • Mitra Business
    • Mitra Celebrities
    • Mitra Computer
    • Mitra Document
    • Mitra Education
    • Mitra Encyclopedia
    • Mitra Fashion
    • Mitra Football
    • Mitra Games
    • Mitra Health
    • Mitra Images
    • Mitra Management
    • Mitra Movies
    • Mitra Music
    • Mitra NetMarketing
    • Mitra Politics
    • Mitra Psychology
    • Mitra Science
    • Mitra Sports
    • Mitra Technology
    • Mitra Videos
    • Mitra Webdev
    • Mitra Women
    • Mitra World
    • Mitra World Media
    • Mitra World News
  • Mitrasites Indonesia

    • Mitra Agrobisnis
    • Mitra Bayi dan Anak
    • Mitra Berita
    • Mitra Bisnis
    • Mitra Blog
    • Mitra Bola
    • Mitra Dokumen
    • Mitra Dunia Islam
    • Mitra Ensiklopedi
    • Mitra Gambar
    • Mitra Gaya Hidup
    • Mitra Griya
    • Mitra Hukum
    • Mitra Indonesia
    • Mitra Kecantikan
    • Mitra Kesehatan
    • Mitra Komputer
    • Mitra Kuliner
    • Mitra Media
    • Mitra Olahraga
    • Mitra Otomotif
    • Mitra Peluang Usaha
    • Mitra Pendidikan
    • Mitra Politik
    • Mitra Sains dan Teknologi
    • Mitra Selebritas
    • Mitra Seni Hiburan
    • Mitra Sufisme
    • Mitra Wanita
    • Mitra Wisata

Blog pada WordPress.com.

Theme: MistyLook by Sadish.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Powered by WordPress.com